lp colic abdomen

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN

CALIC ABDOMEN

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

NAMA : GUSTI YAWATI

 NPM     : 101009314401058

 

RUANGAN : ZAAL BEDAH

 

 

 

YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO

AKADEMIK KEPERAWATAN SETIH SETIO

MUARA BUNGO

TAHUN AJARAN 2011-2012

 

 

COLIC ABDOMEN

  1. PENGERTIAN

Colic Abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001).

  1. PENGURAIAN PENYEBAB

1)      Mekanis

  • Adhesi/perlengketan pasca bedah (90% dari obstruksi mekanik)
  • Karsinoma
  • Volvulus
  • Intususepsi
  • Obstipasi
  • Polip
  • Striktur

2)      Fungsional (non mekanik)

  • Ileus paralitik
  • Lesi medula spinalis
  • Enteritis regional
  • Ketidak seimbangan elektrolit
  • Uremia
  • Perut kembung.
  • Sakit di daerah abdomen bagian bawah, dan tersa sakit sampai kebagian belakang (anus), karena melakukan aktivitas berat.
  1. GEJALA DAN KLINIS
  1. MANI PESTASI KLINIK

1)      Mekanika sederhana – usus halus atas

Colic (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi, muntah empedu awal, peningkatan bising usus (bunyi gemerincing bernada tinggi terdengar pada interval singkat), nyeri tekan difus minimal.

 

2)      Mekanika sederhana – usus halus bawah

Colic (kram) signifikan midabdomen, distensi berat,muntah – sedikit atau tidak ada – kemudian mempunyai ampas, bising usus dan bunyi “hush” meningkat, nyeri tekan difus minimal.

3)      Mekanika sederhana – kolon

Kram (abdomen tengah sampai bawah), distensi yang muncul terakhir, kemudian terjadi muntah (fekulen), peningkatan bising usus, nyeri tekan difus minimal.

4)      Obstruksi mekanik parsial

Dapat terjadi bersama granulomatosa usus pada penyakit Crohn. Gejalanya kram nyeri abdomen, distensi ringan dan diare.

5)      Strangulasi

Gejala berkembang dengan cepat; nyeri parah, terus menerus dan terlokalisir; distensi sedang; muntah persisten; biasanya bising usus menurun dn nyeri tekan terlokalisir hebat. Feses atau vomitus menjadi berwarna gelap atau berdarah atau mengandung darah samar.

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1)      Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus

2)      Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan sigmoid yang tertutup.

3)      Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah; peningkatan hitung SDP dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis dan peningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh lipatan usus

4)       Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolik.

  1. PENATALAKSANAAN MEDIS/BEDAH (PENGOBATAN)

1)      Koreksi ketidak seimbangan cairan dan elektrolit :

2)      Terapi Na+, K+, komponen darah

3)      Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial

4)      Dekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler

5)      Dekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih efektif dengan pasien berbaring miring ke kanan.

 

6)      Implementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis.

7)      Hiperalimentasi untuk mengoreksi defisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik atau infeksi.

8)      Reseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung.

9)      Ostomi barrel-ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko.

10)  Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN COLIC ABDOMEN

  1. 1.      PENGKAJIAN

1)      Umum :

Anoreksia dan malaise, demam, takikardia, diaforesis, pucat, kekakuan abdomen, kegagalan untuk mengeluarkan feses atau flatus secara rektal, peningkatan bising usus (awal obstruksi), penurunan bising usus (lanjut), retensi perkemihan dan leukositosis.

2)      Khusus :

  1. Usus halus
  • Berat, nyeri abdomen seperti kram, peningkatan distensi
  • Distensi ringan
  • Mual
  • Muntah : pada awal mengandung makanan tak dicerna dan kim; selanjutnya muntah air dan mengandung empedu, hitam dan fekal
  • Dehidrasi

a).    Usus besar

  • Ketidaknyamana abdominal ringan
  • Distensi berat
  • Muntah fekal laten
  • Dehidrasi laten : asidosis jarang

 

 

  1. 2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

a).          Kekurangan cairan (dehidrasi) berhubungan dengan mual muntah

b).          Gangguan kebutuhan istiharahat tidur berhubungan dengan sakit kepala

c).          Gangguan pmenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anorexia

d).          Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

e).          Personal Hygiene kurang berhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri

 

 

  1. 3.      TUJUAN DAN KRITERIA HASIL

1)            Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam dan atau diforesis.

 

  • Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi
  • Kriteria hasil :

a).    Tanda vital normal

b).    Masukan dan haluaran seimbang

 

  • Intervensi :

a).    Pantau tanda vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok

b).    Pantau cairan parentral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin

c).    Pantau selang nasointestinal dan alat penghisap rendah dan intermitten. Ukur haluaran drainase setiap 8 jam, observasi isi terhadap warna dan konsistensi

d).    Posisikan pasien pada miring kanan; kemudian miring kiri untuk memudahkan pasasse ke dalam usus; jangan memplester selang ke hidung sampai selang pada posisi yang benar

e).    Pantau selang terhadap masuknya cairan setiap jam

f).      Kateter uretral indwelling dapat dipasang; laporkan haluaran kurang dari 50 ml/jam

g).    Ukur lingkar abdomen setiap 4 jam

h).    Pantau elektrolit, Hb dan Ht

i).      Siapkan untuk pembedahan sesuai indikasi

j).      Bila pembedahan tidak dilakukan, kolaborasikan pemberian cairan per oral juga dengan mengklem selang usus selama 1 jam dan memberikanjumlah air yang telah diukur atau memberikan cairan setelah selang usus diangkat.

k).    Buka selang, bila dipasang, pada waktu khusus seusai pesanan, untuk memperkirakan jumlah absorpsi.

l).      Observsi abdomen terhadap ketidaknyamanan, distensi, nyeri atau kekauan.

m).  Auskultasi bising usus, 1 jam setelah makan; laporkan tak adanya bising usus.

n).    Cairan sebanyak 2500 ml/hari kecuali dikontraindikasikan.

  • o).    Ukur masukan dan haluaran sampai adekuat.

p).    Observasi feses pertama terhadap warna, konsistensi dan jumlah; hindari konstipasi

 

 

 

 

 

 

2)            Nyeri berhubungan dengan distensi, kekakuan

 

  • Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
  • Kriteria hasil : pasien mengungkapkan penurunan ketidak nyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks.
  • Intervensi :

 

a).    Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman; jangan menyangga lutut.

b).    Kaji lokasi, berat dan tipe nyeri

c).    Kaji keefektifan dan pantau terhadap efek samping anlgesik; hindari morfin

d).    Berikan periode istirahat terencana.

e).    Kaji dan anjurkan melakukan lathan rentang gerak aktif atau pasif setiap 4 jam.

f).      Ubah posisi dengan sering dan berikan gosokan punggung dan perawatan kulit.
g. Auskultasi bising usus; perhatikan peningkatan kekauan atau nyeri; berikan enema perlahan bila dipesankan.

g).    Berikan dan anjurkan tindakan alternatif penghilang nyeri.

 

3)            Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan.

 

  • Tujuan : pola nafas menjadi efektif.
  • Kriteria hasil : pasien menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernafasan, pernafasan yang dalam dan perlahan.
  • Intervensi :

 

a).    Kaji status pernafasan; observasi terhadap menelan, “pernafasan cepat”

b).    Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat.

c).    Pantau terapi oksigen atau spirometer insentif

d).    Kaji dan ajarkan pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalam setiap jam.

e).    Auskultasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam.

 

 

 

 

 

4.      Tindakan

a).    Infus RL ; jika anuria -> infus RL:D5 = 1:1

b).    Bila dehidrasi berat -> infus diguyur, dipasang kateter dauwer

c).    Beri analgetik ringan (xylomidon),Spasmolitik: Baralgin, Sulfas Aliopin (inj) ; jika kesakitan sekali -> beri petidin 1 amp im, jangan beri Antibiotik kalau penyebab tidak jelas

d).    Bila gelisah penderita gelisah, beri Diazepam 10 mg iv, bisa diulang tiap 30 menit

e).    Bila panas, beri: antipiretik (Parasetamol)

f).      Bila keadaan umum jelek, beri supportif Vitamin / Alinamin F (inj), Cortison inj 3 cc atau Deksametason 2 amp

g).    Bila dengan upaya di atas keadaan tidak membaik, rujuk ke RSUD

 

  1. 5.      RENCANA KEPERAWATAN

a).    Dehidrasi dapat terpenuhi

b).    Pemenuhan kebutuhan istirahat tidur dapat terpenuhi

c).    Pemenuhan kebutuhan nutrisi terpenuhi ditandai dengan pasien tidak mual muntah lagi

d).    Pasien dapat melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan keluarga

e).    Personal hygiene dapat terpenuhi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Marllyn E. Doenges dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, 2000
  • Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta : EGC; 2001
  • Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s